Advertisment

Sunday, 21 December 2014

Selamat Hari Ibu..


Selamat Hari Ibu, Mama. Terima kasih telah menjadi ibu yang terbaik untukku. Saya tahu, jasamu takkan terbalaskan.


 Hari ibu yang tepat jatuh pada hari ini Senin (22/12/2014), dijadikan momen penting bagi seorang anak untuk bisa menunjukkan baktinya terhadap sang ibu.
tangis mereka tidak terbendung lagi saat sang anak membasuh dan mencium kaki sang ibundanya dengan air kembang mawar. Sambil terus membasuh kaki sang ibunda, sang anak tak henti-hentinya menangis sambil mendoakan kesehatan bagi ibundanya.
Usai membasuh kaki sang bunda dengan menggunakan air kembang mawar, sang anak-pun mengelap kaki ibunda mereka dan menciumnya. Tangis sang ibu dan anak kembali pecah.
Acara sungkeman dalam rangka hari ibu ini sendiri juga diikuti beberapa perwira polisi, para pengusaha, karyawan anak sekolah dasar hingga Bupati Banyumas, Ahmad Husein.

Mereka ikut membasuh dan mencium kaki ibunda mereka. Seluruh peserta acara sungkeman baik ibu dan anak ini menangis haru. Menurut Iptu Pujiono, perwira polisi yang menjadi salah seorang peserta acara sungkeman ini mengatakan jika dirinya sangat terharu dan merasa sangat berdosa karena selama ini kurang memperhatikan ibunda yang melahirkannya.
Acara ini sendiri diselenggarakan di salah satu ruang di Hotel Horison Purwokerto Minggu 21 Desember 2014 sekira pukul 11.00 wib. Sementara menurut panitia, acara sungkeman yang dilakukan sebagai wujud bhakti sang anak pada ibunya ini diselenggarakan dalam rangka memperingati hari ibu.
“Sungkem terhadap ibu dari seorang anak memang jarang dilakukan. Dengan momentum hari ibu ini semoga bhakti sang anak terhadap ibunya bisa terus meningkat,” ujar Mugi Harjo,panitia sekaligus General Manajer Hotel Horison Purwokerto.
Selain sebagai wujud bakti anak terhadap sang ibu, dengan acara ini juga diharapkan bisa meningkatkan rasa cinta dan kasih sayang antara ibu dan anaknya. Tidak hanya pada hari ibu saja, rasa cinta, bakti dan kasih sayang ini diharapkan bisa terus dilakukan sang anak terhadap ibunya setiap hari.
harusnya begini kita menghormati orang yang telah melahirkan merawat kita hingga sekarang
beda dengan kisah ini: 
Hati Nenek Fatimah  (90) rasanya seperti diiris pisau, bagaimana tidak, di Hari Ibu anak yang diasuhnya sejak kecil masih memperkarakannya di pengadilan.
Fatimah digugat Rp1 miliar oleh anak dan menantunya karena dianggap telah menempati dan menguasai lahan milik penggugat tanpa membayar selama puluhan tahun.
Penggugat mengakui tanah seluas 397 meter persegi yang berlokasi Jalan KH Jasyim Asari, Kampung Kenanga, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang yang ditempati Fatimah dan tiga anaknya adalah miliknya.
Padahal pada tahun 1987 lahan yang memang awalnya punya sang menantu Nurhakim, kata Fatimah, sudah dibeli oleh almarhum suaminya, H. Abdurahman senilai Rp10 juta. Dia juga memberikan Rp1 juta untuk Nurhana sebagai warisan.
Akibat perkara ini, Fatimah yang sudah tua renta harus bolak-balik menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Tangerang. Didampingi ketiga anaknya, Fatimah berusaha tegar sampai kemudian Majelis Hakim membebaskan Nenek Fatimah dari gugatan Rp1 miliar.
Namun, sang anak dan menantu tidak terima. Mereka melakukan banding atas putusan majelis hakim tersebut.
Nenek Fatimah pun harus kembali menjalani persidangan perdata gugatan melawan hukum yang diajukan anak dan menantunya itu.
Keduanya menggugat Fatimah untuk mengembalikan sertifikat lahan tanah seluas 397 meter persegi di Kampung Kenanga, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang.
Dalam gugatan kedua itu, Nurhana dan Nurhakim menilai sertifikat yang saat ini ada dalam tangan Fatimah masih sah milik penggugat. Fatimah juga digugat karena sudah membangun di lahan milik penggugat.
Usai menyerahkan berkas, majelis hakim menyarankan kedua belah pihak yang berperkara untuk melakukan mediasi terlebih dahulu, sebelum persidangan dilanjutkan pekan depan.
pada saat anak masih bayi, penderitaan ibu belum selesai. Setiap malam harus bangun untuk mengganti popok, menyusui, dan menidurkan si bayi. Belum juga terlelap lama, jika si kecil bangun, maka ibu harus ikut bangun untuk melayani kebutuhan si kecil. Begitu seterusnya hingga anak dapat hidup mandiri. Bahkan, ketika anak sudah besar dan mandiri-pun kasih sayang ibu tidak pernah surut atau berkurang. Mereka tetap menyayangi anak-anaknya, melalui cucu- cucunya.
Jika dihadapkan padanya antara hidup dan kematian, pastilah ia akan memilih mati agar kita tetap hidup
Seorang ibu malakukan semua itu dengan penuh kasih sayang tanpa disertai harapan mendapat balasan. Seorang ibu adalah ia yang senang ketika kita senang, ia akan sedih ketika kita mendapatkan kesusahan. Jika kita sakit, ia adalah orang yang paling mengkhawatirkan kita. Itulah diantara kasih sayang ibu terhadap anak-anaknya.
Oleh karena itu, jika kita inginkan kebahagiaan dunia maupun di akherat, maka hendaklah kita senantiasa memperhatikan sikap kita kepda ibu dan ayah kita. Kasih sayang seorang ibu dan seoang ayah, adalah keniscaaan yang tak dapat kita baikan. Jikapun Alloh takdirkan kita tak sempat lama bersama mereka, kita masih bisa panjatkan doa atau bersedekah untuk keduanya. Semoga dengan banyaknya kita berdoa atau bersedekah yang kita tujukan untuk mereka, hal ini akan menjadi penolong mereka dan meringankan beban ibu dan ayah kita diakherat kelak. Wallohua’lam







0 comments:

Post a Comment